Ayah

Sekarang memang hari ibu, tapi saya ingin menulis tentang peran ayah yang mungkin agak sedikit terlupakan karena selama ini yang paling banyak diekspos adalah sosok ibu dan bukan ayah.

Bukan berarti saya tidak sayang dengan ibu. Tentu semua anak di dunia ini sayang dengan ibunya masing-masing. Surga di telapak kaki ibu. Ibumu, ibumu, ibumu, lalu ayahmu.

Saya hanya ingin sedikit membeberkan “temuan” saya selama saya hidup di dunia. :D

Sebuah Kisah

Saya memiliki seorang kenalan yang sangat membenci ayahnya. Saking bencinya ia dengan sang ayah sampai-sampai ia tak ingin menikah. “Aku harus pinter Miy! Aku harus dapat nilai bagus! Aku harus dapat kerjaan keren! Aku harus ini! Aku harus itu Miy!”. Begitulah yang sering saya dengar dari mulutnya.

“Ini semua demi ibuku!”

“Ibuku sudah cukup banyak menderita Miy! Kau tahu itu!”

“Aku gak mau nikah! Kalaupun gak mau nikah aku gak mau dapat suami yang seperti ayahku!”

Karena kenalan saya tersebut adalah seorang koleris kuat, di mana salah satu ciri orang koleris kuat adalah omongannya gak mau dibantah oleh siapapun entah benar atau salah, pokoknya gak mau dibantah, maka saya hanya bisa diam dan bertanya-tanya, mengapa ia begitu benci dengan ayahnya.

Suatu ketika saya diajak mengobrol oleh ibunya. Sang ibu curhat tentang kehidupan rumah tangganya. Intinya, beliau berkata kalau dia sangat menderita. Bila boleh kejam saya ingin menuliskan apa yang ibu tersebut bilang kalau dia adalah korban sedangkan suaminya adalah tersangka.

Saat itu subjektifitas saya masih tinggi. Mungkin karena saya perempuan jadi saya lebih memilih untuk membela ibu tersebut dan berkata dalam hati “Ibu ini kuat banget ya! Kasihan hidupnya! Kejam banget ya suaminya!”

Tak hanya sekali dua kali saya mendengar cerita yang sama tapi berkali-kali. Dan, subyektifitas saya juga masih tinggi. Maka, lagi-lagi saya menyalahkan lelaki. Saat itu.

Namun, benar kata sebuah pepatah kalau yang namanya kebenaran itu pasti akan datang entah cepat atau lambat. Ayah dari kenalan saya tersebut meninggal dunia dan semua kebenaran terungkap. Sebuah kebenaran yang hanya tinggal kenangan dan penyesalah karena toh kenalan saya tak bisa merengkuh dan memeluk ayahnya untuk meminta maaf secara nyata sebab sang ayah sudah meninggal. Kenalan saya sangat menyesal, tapi ia juga sadar, menyesalpun tak ada gunanya dan tak mungkin bisa membuat ayahnya hidup kembali.

Ayah kenalan saya tersebut tak pernah sekalipun membicarakan kejelekan istrinya (ibunya), namun sang ibu hampir selalu membicarakan kejelekan ayahnya di belakang. Begitu kata kenalan saya.

Sang ibu selalu berkata bahwa ia teramat sangat menderita sebab menikah dengan ayahnya, tapi ayah kenalan saya tersebut tak pernah sekalipun berkata bahwa dia sangat menderita menikah dengan ibunya. Itu juga cerita kenalan saya selepas kepergian sang ayah.

**

Kisah di atas (yang memang adalah kisah nyata) adalah salah satu contoh dari sekian banyak kisah yang mungkin sering kita dengar. Jujur saja, selama ini berita-berita yang ada tak sepenuhnya benar. Bisa saja ditambah, dikurangi, atau diberi apa agar terasa “enak”. Saya sering mendengar keluhan ibu-ibu yang secara gamblang membicarakan suaminya di depan orang lain dan dengan entengnya berkata “Yah, gitu deh Mbak. Makanya saya berharap anak saya dapat kerjaan dulu lah ya, yah biar nanti gak disepelin sama suaminya!”

Okelah, kita semua sangat sadar dan tahu bahwa perjuangan ibu amat sangat berat. Itu sebabnya surga di bawah telapak kaki ibu. Namun, bila saya yang sangat kurang pengalaman ini boleh berkata atau mengeluh, apakah pantas bila seorang ibu meracuni anaknya dengan hal-hal yang “menghitamkan” nama ayahnya? bolehkah? etiskah?

Bukankah penghuni neraka kebanyakan adalah wanita?

Bukankah salah satu sebab masuknya seseorang ke dalam neraka adalah karena lidahnya?

Bukankah fitnah lebih kejam daripada pembunuhan?

**

Setidak-tidaknya banyak cerita yang saya dengar selama ini bisa menjadi refleksi dan pelajaran bagi saya. Sekalipun saya tak mungkin bisa seperti Fatimah Az Zahra, sekalipun untuk menjadi seperti Aisyah terasa amat begitu berat karena saya bukan siapa-siapa, atau menjadi seperti Khadijah dan Asiyah adalah sebuah kemustahilan karena saya memang sama sekali bukan siapa-siapa, namun bila saya diizinkan untuk menjadi seorang ibu suatu saat nanti, semoga saya bisa menjadi ibu yang baik yang tidak menceritakan keburukan ayahnya di hadapan anak-anak saya kelak entah dalam bentuk seperti apa. Bagaimanapun ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya. Karakter anak lebih banyak diturunkan dari sang ibu karena anak lebih banyak berinteraksi dengan ibunya. Semoga saya bisa. Allah sebaik-baiknya penjaga hati.

Amin…..

Teruntuk semua wanita yang senantiasa selalu menjaga “kebersihan” hatinya

^___________^

Advertisement

One thought on “Ayah

  1. Kita semua tahu bahwa sistem yang ada sekarang adalah sistem yang didasarkan kepada hawa nafsu, bukan berdasarkan Kitabullah dan as Sunnah.

    mio menjawab:
    semoga saya bisa membangun keluarga sy Pak
    makasih udh mampir
    kata Ayah Edy hrs dimulai dr kluarg dl soalnya, hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s