Ngomongin Buku

Kata Mereka tentang “buku apa yang paling mereka sukai?”:

“Aku sih suka baca yang dodol-dodol gitu Mbak!”

“Kalau aku paling suka misteri!”

“Aku paling benci sama yang romantis en melow!”

“Kalau aku suka semua karya-karya Dan Brown! Smuuaaa…”

“Aku donk suka produk (penulis) Indonesia”

“Aku sih suka yang nonfiksi ya terutama investasi dan keuangan. Bagiku selain itu menye-menye!”

“Kalau gw suka chicklit en metropop gitu dech, maklum boo sosialita!”

“Kalau aku yang penting luar negeri! Terserah aku mo ngerti apa kagak! Yang jelas kalau punya buku-buku dari penulis luar tuh terlihat keren di mata publik. Yah… gak boong ya… meski aku juga gak ngerti sama sekali!

“Aku mah suka baca buku agama, maklum takut pisan kalau sewaktu-waktu dipanggil sama Allah, jadi semacam nyiapin bekal gitu! Kumaha ini mah?”

 :D

sumber: obrolan dengan banyak orang yang bahasanya sudah diolah penulis :P

**

Suka Semua Jenis Buku

Jenis buku apa yang paling teman-teman sukai?

Kalau saya sendiri suka dengan semua jenis buku. Jadi, rada-rada susah juga kalau ditanya “buku yang seperti apa yang paling saya sukai?” Yang jelas nomor satu ya Al-Quran dunk :D .

Selebihnya, saya suka dengan semua genre kecuali horror.

Nonfiksi dan fiksi, dari beragam ilmu, latar belakang, dan pemikiran, saya suka. Mulai dari buku yang tergolong wajar hingga yang tidak wajar bahkan “mengerikan”. Tidak wajar atau “mengerikan” maksudnya adalah buku-buku yang berbau-bau ekstrim dan biasanya berhubungan sama pola pikir terhadap sesuatu, misalnya: buku tentang atheis, feminis radikal, hitler, kisah-kisah memilukan dari penjara, dan yang sejenis. Sedangkan kalau fiksi, yang menurut suami saya tergolong mengerikan misalnya: Sheila, Luka Cinta Andrea, 24 Wajah Billy, dan buku-buku tentang pembunuhan berantai atau kejahatan yang tidak wajar lainnya.

Bila buku yang tidak wajar saja saya suka apalagi dengan buku yang wajar, seperti: novel romantis mulai dari yang wajar sampai melow dan cemen, novel perjuangan dalam menggapai sesuatu, novel anak klasik semacam Prince and Pauper, novel detektif, religi, novel tentang perang, metropop chicklit dan teenlit, fanfiction, science fiction, dll. Pun dengan yang nonfiksi, saya menyukai semua genre, mulai dari: investasi dan keuangan, psikologi populer, kesehatan keluarga, seri otak kanan, edu moms, traveling, biografi orang sukses, buku pelajaran, dll.

Intinya, saya memang sukaaa membaca (apapun yang terlihat di mata saya). :D

Kesiapan Mental

Tak bisa dipungkiri kalau apa yang kita baca sedikit banyak akan mempengaruhi pola pikir kita. Kenalan saya yang usianya lebih muda begitu ketakutan setelah membaca buku yang berisi curahan hati ibu-ibu dalam mendampingi suami mereka. Kenalan saya tersebut jadi takut  nikah setelah membaca buku tersebut. “Mbak, apa semua laki-laki seperti itu? Aku takut nikah jadinya! Ah, galau deh!” Ya begitulah kira-kira curhatnya.

Saya sendiri juga pernah mengalami hal seperti itu. Sebelum nikah saya suka membaca buku-buku yang rada “aneh” (padahal sampai sekarang juga sih, hehe).  Dan hal tersebut mempengaruhi pola pikir saya. Misalnya: “Oh, jadi aku nanti harus mandiri nih biar gak dibeginiin. Wah, dalam cerita tsb. si wanita menderita banget karena gak punya kebebasan finansial. Haduh kisahnya si ibu itu tragis, jadi aku harus begini begitu agar tidak seperti ibu itu.” Ya, begitulah kira-kira pendapat saya saat itu. Pun ketika saya membaca buku-buku yang positif, pikiran saya juga jadi terang benderang, “Ah, ternyata nanti itu harus seperti ini ya biar seperti itu. Wah, indahnya kalau seperti itu. Haduhh…. senangnya kalau nanti aku bisa seperti itu.” :D

Itu terjadi jauh sebelum saya menikah.

Alhamdulillah, semakin lama, terutama setelah saya terjun bebas ke dunia literasi dan bertemu dengan banyak penulis kawakan dari beragam genre, sikap-sikap “ekstrim” seperti di atas berangsur hilang. Sekarang, ketika saya membaca  lagi buku “aneh” yang dulu sempat membuat saya galau, saya biasa saja. Saya tak lagi terperangkap dalam pola pikir si penulis. “Ohh…. pengetahuan, ternyata seperti ini!” begitulah sekarang. :D

Kesimpulannya: Tak hanya menikah saja ternyata, membaca buku juga perlu kesiapan mental. Bila kita merasa belum siap menerima materi yang ada di dalam buku tersebut, lebih baik ditunda saja membacanya daripada pikiran kita teracuni. Tapi, ketika kita sudah sangat siap dan yakin bahwa tak akan terjadi apa-apa terhadap mental kita, ya sudah, silakan diteruskan membaca. Toh, membaca memang sumber pengetahuan, baik membaca buku yang wajar maupun yang tidak wajar. Setelah membaca, hal yang kita lakukan adalah menyaring dan merenungkannya, dan bukan menelan bulat-bulat apa yang kita baca.

Mari, membaca buku (apapun jenisnya) dengan bijak!

Semangat!

^___^

Miyomiyosi

One thought on “Ngomongin Buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s